Adab Seorang ‘Alim(Berilmu) Didalam Dirinya Sendiri Dan Mengawasi Muridnya Dan Pelajarannya

Ta’lim tadzkirah Assami’ wal Mutakallim Fii Adabil ‘Alim wal Muta’allim bersama Buya Muhammad Elvi syam Lc. MA.
Hari Ahad 17 Oktober 2021

Bab kedua : Adab seorang ‘alim(berilmu) didalam dirinya sendiri dan mengawasi muridnya dan pelajarannya.

Pasal Pertama :
Adab guru didalam dirinya, terdiri dari 12 Bagian.

1). Bagian Pertama : selalu merasa diawasi oleh Allah ta’la didalam sendirian dan bersama yang lain.

Dan selalu menjaga rasa takutnya kepada Allah didalam semua gerak geriknya dan didalam aktifitasnya dan didalam diamnya,dan didalam perkataan dan perbuatannya. Inilah Ihsan ialah engkau beribadah kepada Allah ta’la seakan-akan engkau melihat Allah, apabila engkau tidak melihat Allah memang sangat mustahil bagi hamba Allah didunia ini untuk bisa melihat Allah,maka sesungguhnya Allah maha melihat kita. Maka sesungguhnya hamba tersebut telah diberikan amanah(kepercayaan) dari ilmu, dari rasa(panca indra) dan pehaman itu merupakan keberkahan dari Allah yang telah Allah berikan. Allah ta’la berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ – ٢٧
“janganlah kalian Allah dan Rasul dan kalian mengkhianati amanah kalian dan kalian mengetahui nya”.(Q.S. Al Anfal 27)

Dan firman Allah ta’la :
اِنَّآ اَنْزَلْنَا التَّوْرٰىةَ فِيْهَا هُدًى وَّنُوْرٌۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّوْنَ الَّذِيْنَ اَسْلَمُوْا لِلَّذِيْنَ هَادُوْا وَالرَّبَّانِيُّوْنَ وَالْاَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوْا مِنْ كِتٰبِ اللّٰهِ وَكَانُوْا عَلَيْهِ شُهَدَاۤءَۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗوَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ – ٤٤
Sungguh, Kami yang menurunkan Kitab Taurat; di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan Kitab itu para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.(Q.S. Al maidah 44)

berikut beberapa perkataan para salaf terdahulu tentang ilmu :

Imam Syafi’i berkata : “Ilmu itu bukanlah yang dihafalkan,akan tetapi ilmu itu yang bermanfaat”.
Ada orang yang telah belajar akan tetapi setelah ia belajar ia kembali kepada adatnya atau kebiasaan nya. Artinya ilmu itu apa telah dihafalkan kemudian diamalkan setelahnya.
Ilmu didapat dengan petunjuk dan agama yang benar(amalan sholeh) Dan darinya itu : ilmu selalu mendatangkan ketenangan dan selalu berwibawa dan kekhusyukan dan wara’ dan dapat merendahkan diri kepada Allah.

 Imam Malik pernah menulis kepada Harun Arrasyid radhiallahu anhuma : jika engkau telah diberikan Ilmu maka hendaklah ada pengaruh/bekas dari ilmu tersebut. Yaitu baik didalam ilmunya dan didalam ketenangan nya dan didalam kelemahan lembutan. Demikian juga,  Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Para Ulama itu Pewaris Para Nabi”.

Dan Umar bin Khattab Radhiallahu anhu pernah berkata : pelajarilah Ilmu dan beramal lah dengan nya didalam ketenangan dan kewibawaan.

juga ada perkataan dari Salaf  : hak dari seorang yang berilmu adalah merendahkan diri kepada Allah didalam kesembunyiannya dan didalam kebersamaanya, dan menjaga diri nya dan berhenti ketika ada masalah.

2. Bagian Kedua : Hendaknya ia menjaga dan memelihara ilmu tersebut sebagaimana dulu para ulama salaf menjaganya, dan hendaknya ia tegakan ilmu tersebut sebagaimana Allah ta’la telah menjaga kewibaan dan kemuliaan Ilmu.

Maka janganlah ia merendahkan ilmu tersebut dengan pergi dan berjalan bukan kepada pemiliknya, dari anak-anak dunia dan bukan suatu hal yang darurat dan dibutuhkan, atau kepada yang akan mempelajari ilmu dengan mendatanginya. Dan walaupun yang belajar/ yang ingin belajar tersebut memiliki kedudukan yang tinggi.

Berkata imam Azzuhri : “Hinaan terhadap ilmu ialah seorang yang berilmu yang mendatangi bagi yang mau belajar atau (privat belajar agama). Dan perkataan ulama salaf terkait hal ini banyak sekali. Maka tidak pantas sekiranya seorang ‘alim (yang memiliki Ilmu agama) pergi untuk mendatangi rumah bagi orang yang ingin belajar dari nya, karena hal tersebut merupakan dapat merendahkan kedudukan ilmu. Dan sungguh indah nya perkataan seorang hakim Abu Hasan Al jurjaani :

Dan bolehnya ilmu itu untuk mendatangi kecuali dalam suatu maslahat agama dan kecilnya mafsadatnya(kerusakannya) dan niat yang baik. Maka diperbolehkan seperti mendatangi para raja, dan para pemimpin seperti Imam zuhri, imam syafi’i dan selainnya, bukan karena kepentingan dunia yang ingin didapatkan nya.

Dan begitu juga yang diperbolehkan untuk didatangi yaitu yang memiliki keilmuan dan kezuhudan yang lebih dari diri nya untuk mengambil ilmu dan faedah darinya. Sebagaimana yang telah dilakukan Seperti Sufyan atstsauri mendatangi ibrahim bin adhan dan ia mendapati faedah darinya. Dan juga abu Ubaid (pakar bahasa) berjalan ke Ali bin ‘Ali madini (pakar hadist) utk mendengarkan hadist2 ghorib.

Ditulis : Rahmat Ridho S.Ag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *